Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Stories. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Maret 2017

EYANG KITA SEMUA PART 5 (END)



Hampir 90 Tahun

 
Sabtu, 25 Februari 2017, 09.00

       Kehilangan seseorang yang kita cintai memang tidak akan pernah mudah. Sekalipun kita telah menyiapkan hati untuk kemungkinan terburuk, rasa sakit itu akan tetap membekas.
       Pagi selepas subuh, saya dan dek Tika bersiap pergi ke resepsi pernikahan kakak sepupu di sebuah gedung di Malang. Kami berdua mewakili keluarga besar yang urung hadir karena mendampingi eyang.
      Sekira pukul 09.00, di tengah acara, kami dihampiri seorang tetangga. “Mbak Selvi, mbak Tika, yang sabar ya, eyang sudah nggak ada,” ujarnya pelan. Beberapa detik kami menyelami kata-kata itu. Hingga tumpahlah air mata kami. Kami langsung meraih handphone masing-masing. Barulah saya melihat ada beberapa panggilan tidak terjawab. Saya menghubungi mas Indra yang hanya menjawab singkat, “Iya, eyang sudah nggak ada”.

Selasa, 31 Januari 2017

4 HARI 7 KOTA 3 PROVINSI



      Minggu lalu saya melakukan sebuah perjalanan. Bolehlah disebut traveling ala-ala. Sendirian? Impossible lah. Bisa digethok bapak kalau anak ceweknya ini berani pergi jauh sendirian. Sebenarnya saya cuma ikut serta keluarga bapak mengunjungi saudara di Karawang. Awalnya saya tidak berpikir untuk ikut, bahkan menolak saat ditawari. Tapi, H-1 ilham itu muncul. Saya memutuskan untuk bergabung. Beruntung masih ada kursi kosong.

       Anggaplah ini liburan awal tahun saya. Anti mainstream banget kan? Disaat orang lain sudah masuk kerja, saya justru liburan. Cihuuyyy...

Sabtu, 17 September 2016

TENTANG KAMU



        Rinai hujan turun perlahan sesaat setelah aku masuk kedai kopi. Pandanganku mengitar. Tidak terlalu ramai. Hanya dua meja yang terisi, masing-masing 3 orang. Seperti biasa, aku memilih tempat duduk di sudut, dekat jendela besar yang menghadap ke taman samping. Lima menit, minumanku dihidangkan. Aku menyeruput perlahan. Hangat. Pas dengan cuaca di luar yang merambat dingin. Aku menatap keluar menunggu kedatanganmu. Ya. Menunggu.
        Entah sejak kapan aku mulai terbiasa menunggu. Aku menikmati ritme ketika menunggu. Terutama untuk kamu. Aku memang lebih suka menunggu daripada ditunggu. Aku tidak mau membuat orang kecewa dengan menungguku. Sederhana saja. Kali ini, stok kesabaranku menggunung, menanti perjumpaan kembali denganmu. Hawa berbeda kurasakan kini. Keyakinan akan langkah-langkah kebahagiaan yang semakin mendekat menghampiri.
        Kepalaku lurus sempurna memandang taman yang penuh dengan bunga mawar. Kutatap embun yang menempel di kelopaknya. Tetes-tetes air masih terlihat jatuh dari atap luar kedai. Pelan saja. Gerimis. Jika berada di rumah, aku lebih suka menikmati air itu membasahi mukaku. Bermain hujan. Kecipak air, belepotan lumpur, dan bau tanah tersiram hujan. Ah,,,

Selasa, 23 Februari 2016

CERPEN 2016


Cinta Telah Datang
Hati Dewi sedang berbunga-bunga, langkah kakinya terasa ringan, senyum tak lepas dari bibir tipisnya. Rasanya gadis 21 tahun itu ingin berteriak mengungkapkan kebahagiaannya. Judul proposal skripsi yang telah dipersiapkan sejak awal semester 6 itu telah disetujui oleh kedua pembimbingnya. Minggu depan dia dijadwalkan seminar proposal. Dia sadar ini baru langkah awal. Dia berharap proses selanjutnya akan berjalan lancar.
Di dalam angkot yang membawanya pulang, handphone-nya bergetar tanda panggilan masuk. Dari nomor yang asing. Dewi memutuskan untuk mengabaikannya. Hingga ketika dia telah turun dari angkot dan melangkah memasuki halaman, handphone-nya kembali bergetar. Kali ini sebuah pesan.
“Assalamualaikum,,, gimana kabarnya?”
Dahi Dewi berkenyit, segera dibalasnya sms itu.
“Waalaikumsalam, maaf ini siapa ya?”
Tak menunggu lama, handphone-nya kembali bergetar.
          “Dani. Nomorku gak di-save nih?”
Deg. Detak jantung Dewi serasa berhenti. Hanya satu nama Dani yang dia kenal. Seorang pemuda yang dikenalnya setahun lalu lewat jejaring sosial yang kemudian intens menghubunginya.
“Oh, Mas Dani. Maaf nomornya hilang saat handphone-ku ke-restart.”
Dewi berbohong. Dia memang dengan sengaja menghapus nomornya bahkan mem-block jejaring sosial Dani karena suatu alasan, yang Dewi sendiri belum yakini.
Sms itu terus berlanjut. Dani banyak bertanya dan Dewi menjawab singkat. Lebih tepatnya berhati-hati. Sampai Dani yang memutus sms itu dengan mengatakan bahwa sebenarnya sedari tadi dia berada di kelas dan sms secara sembunyi-sembunyi. Tak ayal, Dewi tersenyum membayangkan tingkah konyolnya. Senyum tipis, setipis aliran dingin yang tiba-tiba merasuki hatinya.
***

Jumat, 17 April 2015

EYANG KITA SEMUA (PART4)

 
Foto: Eyang Tersayang (Dok.Pribadi)

Rasanya gak akan ada habisnya kalau cerita tentang eyang. Banyak hal positif yang bisa diambil dari kegiatan eyang sehari-hari.

Pagi kemarin, walaupun sedang puasa sunnah kamis, eyang masih bisa dengan asyiknya berkebun. Menata dan merawat tanaman kesayangannya di taman kecil depan rumah. Membongkar tanaman, mencampur tanah dengan pupuk agar gembur lagi, menanam tanaman dalam pot, hingga menyiraminya.

Lagi-lagi, saya hanya melihat dari teras rumah. Karena eyang memang gak suka dibantu, kecuali ada yang harus ditolong.

Kamis, 31 Juli 2014

EYANG KITA SEMUA (PART 3)

Sebenarnya, antara iya dan tidak untuk mempublish cerita ini. Soalnya ada beberapa sodara yang gak dikasih tau soal ini. Tapi, setelah saya pikir, toh kejadian ini sudah berlalu dan nggak berakhir buruk. Dan lagi ini termasuk kejadian yang gak akan saya lupakan, sampai2 saya catat di diary..

Hari itu Sabtu, 17 Mei 2014 adalah jadwal eyang check-up ke rumah sakit Baptis seperti biasa. Kalo hari Sabtu biasanya selesai cepat sekitar jam 9an. Tapi, hari itu hingga pukul 2 siang belum juga pulang. Gak ada kabar juga dari mas In. Sampai akhirnya, menjelang ashar mas In memberi kabar ke om Bam dan mama, bilang kalo eyang mau operasi mata katarak dan harus diopname saat itu juga untuk dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh. Wah,, paniklah kami semua. Mama dan saya langsung menemui om Bam untuk klarifikasi kabar itu. Om Bam yang juga baru sampai rumah, juga terlihat khawatir sampai2 salah satu kaos kakinya belum dilepas demi bercerita ke mama (salah satu hal detail yg saya perhatikan).

Rabu, 19 Februari 2014

EYANG KITA SEMUA (PART 2)

Okey,karena banyak permintaan untuk melanjutkan stories ini (siapa? siapa? geer banget), akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kisah tentang eyang ini. Mungkin ini yang masih tersisa di otak saya kemarin yang belum sempat saya sampaikan. Jadi,kalau antiklimaks, gak menarik, gak greget, jangan dihina, tapi simpan di hati saja atau dibuang ke laut (ngomong apa kau selv!!). Iya,iya, sudah cukup basa-basinya. Langsung cekidot saudara-saudara sekalian…

7.    Penyayang dan Perhatian
Walaupun kadang kondisi kesehatannya menurun, begitu dengar ada anak atau cucunya yang sakit, eyang secara langsung melihat kondisinya. Seperti beberapa saat yang lalu, mama saya kambuh sakit maag-nya, eyang dengan langkahnya yang mulai tertatih menyempatkan diri datang ke rumah. Meskipun harus melewati jalan terjal, mendaki gunung, lewati lembah (bukan..bukan.. eyang saya bukan ninja hatori) ----skip skip, itu hanya penggambaran lebay tentang rumah saya yang memang punya banyak tangga naik turun. Begitu sampai di kamar, eyang yang saya tahu kelelahan, berusaha dengan baik menanyakan keadaan mama (terharu banget). Hiks..

Begitu mau pulang, mama selalu menyuruh saya untuk mengantar eyang. Dan seperti sebelumnya begitu saya gandeng tangannya, eyang selalu menampakkan keengganannya. Eyang memang sepertinya tidak terlalu suka dianggap sebagai orangtua yang selalu diperlakukan “tua”. Pun begitu ketika akan berangkat sholat jumat. Eyang akan selalu berangkat sendiri, tidak mau diseberangkan.

EYANG KITA SEMUA (PART 1)

Selasa, 04 Februari 2014 17.05

Entah kenapa sore ini tiba-tiba ingin menulis tentang eyang. Inspirasi memang bisa datang kapan pun. Makanya selagi muncul, saya coba untuk corat-coret sedikit mengenai eyang kakung. Meskipun kondisi badan lagi gak fit, mata dan hidung berair (jadi curhat?? Abaikan). Anggap saja ini biografi (ngarang,,lebay,,), sejarah atau informasi singkat tentang eyang. Hasil pengamatan saya selama ini dan juga tanya kanan-kiri. Thanks a lot to om Bams, sebagai informan utama. Okey gitu aja deh, cap cus ciin.. :D

1.   Profil

Eyang bernama lahir Soemadji. Lahir di Tulungagung, 17 Agustus 1927. Saya tidak begitu tahu tentang kepastian tanggal lahir ini (setelah mengurus dokumen kematian eyang, saya baru tahu bahwa tanggal itu benar). Entah memang benar atau hanya agar mudah diingat. Maklum, pada zaman dulu orang tidak begitu mengingat tanggal lahirnya. Apalagi bagi eyang yang lahir di kota kecil. 

Eyang merupakan anak tunggal dalam keluarganya. Ayahnya meninggal saat masih kecil. Lalu ibunya menikah lagi. Jadi, eyang mempunyai saudara tiri beberapa (saya kurang begitu paham soal ini). Eyang kemudian dirawat oleh paklik dan buliknya. Eyang pernah sekali mencari keluarganya ditemani oleh anak-anaknya, namun hanya menemukan pakliknya saja.

Saya baru saja mendapat kisah lengkapnya dari mama kemarin. Waktu itu setelah bapak saya punya mobil untuk pertama kali, entah kenapa eyang akhirnya mau diajak oleh mama mencari keluarganya (padahal sebelumnya eyang berkali-kali menolak). Singkat kata berangkatlah eyang ditemani kedua orang tua saya ke Tulungagung. Begitu sampai disana, eyang seolah-seolah kembali ke masa kecilnya. Tiap melihat rumah model masa kecilnya eyang selalu menunjuk dan berkata," iku omahku, wid (nama mama saya)". Berkali-kali eyang seperti itu padahal bukan. 

Namun, sepertinya nasib baik masih menghampirinya. Di rumah terakhir yang didatangi, eyang akhirnya menemukan satu-satunya keluarganya yang tersisa, yaitu pakliknya, adik ibunya yang merawat eyang kecil. Sebagai saksi mata, mama melihat mereka saling berpelukan erat dan menangis haru. Pakliknya bahkan sempat berkata "oalah Ji,Ji,, kowe sek urip ta?? (saya menangis saat mendengar kisah ini. Bagaimana tidak? Saya membayangkan bagaimana kehidupan eyang selama ini yang sebatang kara. Tanpa ayah dan ibu yang telah meninggal). Pertemuan itu menjadi terakhir kalinya. Karena setelah itu tidak ada kabar dari pakliknya lagi. apa masih hidup atau sudah meninggal...