Sabtu, 19 Mei 2018

LIBURAN SINGKAT KE AGROWISATA BHAKTI ALAM PASURUAN

Foto: bhaktialam.com

Minggu, 06 Mei 2018

Rencana awal, kami sekeluarga akan berlibur ke pantai bersama teman-teman bapak, tetapi dibatalkan karena satu hal. Karena sudah siap, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Agrowisata Bhakti Alam Pasuruan.

Karena mendadak, akhirnya kami hanya pergi bersembilan (saya, bapak, mama, Tika, Aldha, emak, mba Jur, Farah, dan Fahri). Berbekal google map, berangkatlah kami. Kami bahkan harus mampir membungkus makanan di warung karena tidak menyiapkan bekal.

Jumat, 22 Desember 2017

CAHAYA ITU BERNAMA IBUK




Ibu,,,ibu,,,ibu,,,

Benarlah sabda Nabi Muhammad, siapakah orang pertama yang harus kami hormati? Ibumu…ibumu…ibumu…

Terlahir dengan nama Sri Marini, hingga akhir hayat ibuk lebih dikenal dengan sapaan Bu Madji (istri Pak Soemadji). Sosok yang lincah, baik hati, tulus, cerewet, sabar serta perhatian. Tak hanya pada kami, anak, cucu, dan cicit, kasih ibuk juga tercurah pada tetangga, rekan, dan saudara. Bahkan dengan orang baru, ibuk selalu bertanya “Itu siapa? Anaknya siapa? Rumahnya dimana?” Pertanyaan sepele mungkin, namun bukankah itu awal dari perhatian yang tulus?

Rabu, 29 November 2017

REVIEW: SARLITA DENTAL CARE MALANG

Dok. Pribadi

Mumpung masih dalam rangka Bulan Kesehatan Gigi Nasional (12 September-29 November 2017), lah, udah hari terakhir dong, haha,, kali ini saya akan sedikit berbagi pengalaman seputar pergigian (istilah apa ini?)

Sebenarnya, saya bukan orang yang saklek harus periksa gigi pas BKGN. Cuma, karena merasa gigi udah mulai nggak nyaman buat makan, ya sudah lah....

Berhubung kalau di dokter gigi langganan harus antri 3 bulan, yang berarti baru dapat giliran tahun depan (beuh,, keburu kurus gara-gara nggak enak makan, hihi,,), akhirnya saya browsing-browsing alternatif lain.

Sempat tanya saudara kanan kiri (jatuhnya malah bingung, haha,,,), akhirnya saya memilih ke Sarlita Dental Care (SDC) setelah melihat beberapa review-nya di google

Nah, bagusnya SDC buka  jam 9.00-12.00 dan 18.00-21.00, jadi bisa berangkat pagi. Musim hujan gini siang sampe malem pasti hujan nggak berhenti.

Sampai sana saya nunggu karena belum buka (terlalu bersemangat, jadi kepagian, haha,,). Sekitar 7 menit, akhirnya si mas asisten datang dan buka klinik.

Tempatnya nyaman. Ada ruang tunggu luar dan dalam yang dilengkapi majalah dan televisi. Disediakan juga sandal ruangan yang bersih.

Karena baru pertama kali kesana, saya mengisi form biodata diri. Terus saya sampaikan keluhan saya ke mas asisten dan perawatan apa yang bakal saya ambil. Setelah itu baru masuk ke ruang tindakan.

Begitu masuk, saya disambut drg. Mila. Saya ceritakan keluhan gigi  yang ngilu kalau dibuat makan. Setelah difoto, ternyata ada lubang yang harus ditambal. Okelah...

Proses tambalnya juga nggak butuh waktu lama dan nggak sakit (pakai laser). Mumpung masih sepi, saya akhirnya lanjut scaling (pembersihan karang gigi). Proses selesai kurang dari 30 menit. Gigi langsung berasa bersih dan nyaman.

Kata dokter, gigi saya termasuk kuat dan sehat (yaiyalah,, dari kecil diseret-seret sama bapak wajib perawatan gigi. haha....), jadinya dokter cuma ngasih beberapa saran untuk merawat gigi yang baik dan benar.

Pas bayar, ternyata harganya cukup terjangkau. 100 ribu untuk tambal dan scaling 200 ribu. Jadi total 300 ribu. Wuah,,, leganya....

Notes: Jangan takut ke dokter gigi, gara-gara suara alatnya yang ngiiing...ngiiing (kayak bor) itu. Haha.... :D Soalnya sekarang alatnya udah canggih banget (bisa meminimalkan rasa sakit). Salam gigi sehat dan senyum ceria :)

Sabtu, 04 November 2017

REVIEW: SIRKUS POHON

 
Foto: Bukalapak
Apa yang ada di pikiran kalian saat pertama kali mendengar kata sirkus? Atraksi. Permainan. Badut. Akrobat binatang. Ataupun lainnya.

Sirkus Pohon. Judul buku terbaru Pak Cik ini segera menarik perhatian saya. Apakah akan ada atraksi pohon? Pohon yang jungkir balik? Pohon warna-warni meriah layaknya badut dalam sirkus? Enyahkan saja jika ada pikiran lugu macam itu.

Seperti tulisan sebelumnya, kali ini Andrea Hirata masih berkutat pada pada konflik sosial, budaya, dan kehidupan masyarakat asli Belitong.

Cerita berawal dari sang tokoh utama, Sobrinudin bin Sobirinudin alias Sobri alias Hob. Hob merupakan seorang pemuda yang bolehlah disebut "gagal" dalam hidupnya. Putus sekolah, mantan narapidana, bukan pekerja tetap, serta bujang lapuk.

Tapi segera setelah Hob bertemu Dinda, delima, dan sirkus semuanya berubah. Hob menjadi pekerja tetap dengan seragam badut pada sebuah sirkus keliling "Blasia" yang dimiliki oleh Tara dan ibunya.

Hob bahagia bisa melihat ayahnya tersenyum kembali setelah kematian ibunya. Membuat Azizah, adiknya, tak lagi rongseng  karena Hob telah punya pekerjaan tetap. Hob bahkan bisa melamar Dinda. Semua itu berkat sirkus. "Sirkus Pohon"

Namun, layaknya roda yang berputar. Hob harus kembali pada titik dasar kehidupan setelah sirkus kolaps akibat konflik keluarga Tara dan permainan politik. 
Tak hanya itu, Dinda juga menjadi "gila" sebab tragedi delima yang dulu membuatnya jatuh cinta.

Novel ini tak hanya berporos pada kisah Hob. Namun juga ada cerita Tara yang harus pontang-panting mencari cinta pertamanya, "Sang Pembela" di taman bermain pengadilan agama. Kisah cinta yang unik karena Tara sampai menggelar pameran lukisan yang berisi 94 sketsa wajah "Sang Pembela". Yang berakhir indah dengan "Sirkus Surat".

Selain itu ada pula konflik politik pemilihan kepala desa yang melibatkan kisah mistis pohon delima. Sirkus mik, sirkus foto, sirkus sapi, dan sirkus kampanye menjadi babak-babak yang cukup seru untuk disimak. Tawa dan geram akan saling silang selama membaca novel ini.

Dibanding novel sebelumnya, Ayah, yang berhasil menguras emosi. Tangis, haru, dan tawa menjadi satu. Sirkus Pohon tak terlalu mengaduk emosi saya. Istilah sains dan humor rasa Andrea tetap ada, namun terasa hambar. Tetapi saya seolah diajak lebih berpikir maksud novel ini.  Menghubungkannya dengan judul, yang berakhir dengan kesimpulan: Menarik dan luar biasa indah!!

Selasa, 22 Agustus 2017

URUS-URUS BERKAS PENCARI KERJA

 
Foto: Hipwee.com

Nah, beberapa hari yang lalu saya diribetkan dengan masalah urus-urus berkas kelengkapan kerja. Ternyata, udah banyak banget yang berubah. Terutama tentang efisiensi birokrasi. Lebih simpel dan mudah. Berikut beberapa yang bisa saya share...

1. Surat Keterangan Dokter (SKD)
 Kamu bisa minta SKD di Puskesmas daerah tinggal masing-masing. Tata caranya:
  • Datang ke Puskesmas.
  • Ambil nomor antrian, tunggu giliran.
  • Dipanggil ke meja resepsionis, berikan ktp asli dan sampaikan keperluan, tunggu.
  • Dipanggil ke ruang periksa ketemu dokter. Ditanya keperluan, ukur tinggi dan berat badan, serta tekanan darah.
  • Tunggu sebentar sambil diajak chit-chat ngalor-ngidul. 
  • SKD jadi bayar Rp 5.000,- di kasir.
  • Selesai.
Prosesnya sebenarnya cepat. Cuma kalau antrinya lagi banyak ya sabar-sabar nunggunya.
2. Kartu Pencari Kerja / Kartu Kuning
Kalau dulu mintanya ke Dinas Sosial, sekarang jadi satu di pelayanan satu pintu BPM Block Office. Mungkin tiap daerah beda-beda ya...
Tata caranya:
  • Berhubung mesin antrian rusak, jadi saya tanya prosedurnya ke mbak-mbak di kursi tunggu.  
  • Minta formulir pendaftaran ke petugas, diisi lengkap.
  • Setelah selesai serahkan kembali ke petugas disertai fotokopi ijazah terakhir yang dilegalisir 1 lembar, fotokopi KTP 1 lembar, dan foto berwarna 3x4 2 lembar. Tunggu dipanggil.
  • Ke petugas pencatatan berkas untuk kroscek kebenaran data diri. Setelah jadi, kartu kuning dibawa kembali ke petugas awal untuk distempel.
  • Gratis.
  • Selesai.
Jika kamu perlu legalisirnya, kamu bisa langsung fotokopi maksimal 5 lembar.
3. Surat Keterangan Bebas Narkoba (SKBN)
Ada dua tempat yang bisa kamu datangi. Rumah Sakit Daerah / Polri atau BNN Kota. Saya lebih pilih langsung ke BNN, soalnya pengalaman sepupu ke rumah sakit bayarnya mahal. Hehe...
Tata caranya:
  • Datang ke satpam jaga / resepsionis, sampaikan keperluan.
  • Isi buku tamu lengkap.
  • Tunggu dipanggil.
  • Dipanggil ke ruang periksa. 
  • Serahkan fotokopi KTP 1 lembar.
  • Bayar Rp 75.000,- untuk beli alat tesnya.
  • Diperiksa tekanan darah sama denyut nadi.
  • Diberi wadah plastik untuk tempat urine, ke toilet.
  • Kembali ke ruang periksa serahkan wadah urine.
  • Tunggu.
  • SKBN selesai.
Berhubung saya kesana siang hari setelah sholat jumat, komandan sudah tidak di tempat. Jadi saya harus kembali Hari Senin untuk mengambil SKBN. Saran saya sih, lebih enak datang siang waktu tesnya. Soalnya cenderung sepi dan cepat. Tapi kembali ke kebutuhan masing-masing orang sih...
4. SKCK
Sejak tahun ini, mengurus SKCK sudah nggak perlu lagi ribet-ribet minta surat pengantar desa, kecamatan, atau koramil lagi. Kamu tinggal langsung datang ke Polsek atau Polres masing-masing daerah. Tata caranya:
  • Datang ke Polsek.
  • Serahkan fotokopi KTP 2 lembar, fotokopi KK 2 lembar, fotokopi akte kelahiran 2 lembar, foto berwarna 4x6 2 lembar (background merah).
  • Tunggu.
  • Dapat surat pengantar untuk dibawa ke Polres.
  • Di Polres serahkan surat pengantar dan foto berwarna 4x6 6 lembar (background merah).
  • Dapat formulir berlembar-lembar. Isi lengkap jangan sampai ada yang dikosongi.
  • Selesai serahkan ke petugas, lalu tes sidik jari.
  • Tunggu sebentar.
  • SKCK jadi bayar Rp 30.000,-
  • Selesai
Kalau mau legalisir langsung difotokopi maksimal 5 lembar gak perlu bayar lagi.
Itulah beberapa proses urus-urus berkas terbaru. Cukup mudah dan cepat. Asalkan kamu semua sudah siapkan syarat-syarat yang diperlukan. Yang paling penting kalian harus usahakan datang sendiri...